Selasa, 22 Desember 2015

Catatan Harian Linda Al-Husna 2009



KHILAF
Cianjur, 21 Juni 2009

                Buyung, sebelumnya aku minta maaf atas kekhilafanku selama ini.Aku benar-benar belum memahami apa yang terjadi pada diri kita? Sebelum aku berusaha memahami semuanya, sudah dihadang keangkuhan.Sebuah keangkuhan yang membuatku enggan mencari tahu, apa yang terjadi padaku dan padamu? Hingga kita terpisah dan sulit bercerita? Seperti dulu, seperti yang biasa kita lakukan setiap sore menjelang maghrib.Sejujurnya, aku merindukan masa itu.Masa kanak-kanak kita yang penuh petualangan.Tanpa rasa takut, tanpa rasa benci, tanpa mengkhawatirkan masa depan.Kita menikmati hari-hari penuh kasih sayang.Dan aku sangat merasakan, seberapa dalam perhatianmu padaku.Sayang, semua itu sudah lama berlalu!
                Buyung, sebenarnya, sesekali terbit dalam perasaanku, ingin mencari tahu keberadaanmu.Kau berada dimana, kegiatanmu apa setelah kita beranjak dewasa? Sungguh aku ingin tahu, bahkan kalau mungkin, aku ingin menjemput dan mengurai kembali cerita lama yang nyaris terlupakan.Bahkan wajahmu kini seperti apa aku tidak tahu! Dan tak ada seorang pun yang memberitahuku!
                Buyung, apa kau juga punya perasaan atau keinginan yang sama denganku? Jika ya, apa hambatannya? Apa yang menyusahkan kita untuk bertemu, bercerita dan berpetualang? Apa masih ada aku dalam pikiranmu, setelah kau beranjak dewasa dan banyak kawan?
                Buyung, aku ingin memaafkan diriku sendiri yang memiliki harapan banyak kepadamu.Aku ingin memaafkanmu, karena tidak segera menemuiku dalam keadaan seperti biasanya.Aku ingin memaafkan kenyataan pahit yang diberikannya kepada kita.Buyung, apa kau sanggup memaafkan untuk semuanya? Sungguh, aku tidak mau menyesal menjalankan hidup didunia ini!
                                                                                *****

LAPISAN KEPRIBADIAN
Cianjur, 21 Juni 2009

                Halimah adalah teman baruku.Aku baru berkenalan dengannya beberapa hari yang lalu.Disebuah perpustakaan umum dikotaku.Awalnya, kami tidak saling tegur sapa.Aku sibuk dengan pencarian buku yang menarik minatku.Demikian pula dengan Halimah.Tak ada kata-kata, tak ada lirikan yang mengisyaratkan bahwa hari itu aku akan mendapatkan teman baru.Karena perempuan disebelahku sibuk membuka-buka buku yang dibawanya dari rak buku.Tanpa sengaja, aku melirik  sebuah judul pada buku yang dibawanya dari rak buku.Tiba-tiba aku merasa tertarik dengan judul buku itu.Sekilas kulihat wajah perempuan disebelahku.Sejenak kuamati, bagaimana kira-kira aku menaksir kepribadiannya.Perempuan yan disebelahku, yang sedang sibuk membuka-buka buku itu tak bergeming.Kukira penaksiranku tidak akan mengganggunya.Kupikir ini hanya penaksiran subjektif hasil analisaku sekilas saja!
                Halimah adalah teman baruku.Waktu pertama aku bertemu dengannya, kesan pertama yang dapat kutangkap dari penampilannya, Halimah seorang anak rumahan, agak tertutup, menjaga image dan ketergantungan pada seseorang atau seseuatu.Halimah dalam kesan pertamaku agak hemat dalam berbasa-basi sedikit jutek dan selalu mau untung.Sampai pada saat aku harus meminta izin untuk meminjam sebentar salah satu buku dalam himpunan buku yang dibawanya.Terpaksa aku mengatakan sesuatu.Tanpa disangka, Halimah mempersilahkanku membawa buku yang menarik minatnya.Bahkan menanyakanku beberapa hal tentang sesuatu yang berhubungan dengan judul dalam buku tersebut.Sampai hari ini, kami menjadi teman.Halimah yang kutaksir semula, ternyata tidak seperti yang terlihat.Kepribadian Halimah lebih baik dari sekedar yang kukira!
                                                                                *****

LIBUR BAGI SEORANG PENULIS
Cianjur, 23 Juni 2009

                Aku ingin menjadi penulis, terkenal atau tidak itu nomor kesekian.Aku ingin menuangkan semua yang jadi permasalahan manusia secara rinci.Dengan begitu, dengan sangat mudah, aku dapat menemukan jawaban-jawaban dari setiap permasalahan.
                Aku ingin jadi penulis, terkenal atau tidak, tetap saja menulis.Bagiku pekerjaan menulis merupakan pelepasan emosi secara perlahan-lahan.Dan ini menjadi obat bagi kejenuhan pikiran dan perasaan.Karena aku ingin jadi penulis, tentu ingin saja tidak cukup untuk menjadi seorang penulis.Aku harus berlatih menulis,menulis dan menulis.Hingga aku menemukan gaya tutur khasku sendiri.Tidak mudah memang untuk bertahan dengan serangkaian rencana yang kubuat dalam jangka waktu tertentu.Butuh kesabaran, ketekunan dan kemauan.Sebab tak pelak dalam perjalanannya aku selalu mendapatkan rintangan berupa rasa malas, jenuh atau menghadapi kejadian-kejadian yang tak terduga lainnya.
                Aku ingin menjadi penulis.Sejatinya tidak ada istilah hari libur bagi seorang penulis.Seperti yang dikatakan Gerald Brenas ‘Hanya dengan menulis setiap pagi, seseorang dapat menjadi penulis.Jika tidak dia akan tetap menjadi seorang amatir!’ aku cukup tersentuh dengan pernyataan ini.Kalimat ini sanggup membakar kemauan serta ambisiku untuk terus menulis.Walau sesekali berhenti menulis jika sedang dihinggapi perasaan-perasaan tertentu.Aku masih bertekad, aku ingin menjadi penulis.Seorang penulis yang tulisannya mudah difahami dan bermanfaat bagi semua orang.Untuk itulah, kukumpulkan informasi-informasi tentang kepenulisan dan orang yang telah lebih dulu menerjuni bidang ini.Sebentar lagi dunia akan tahu, bahwa aku, seorang penulis!
                                                                                *****

BERGERAK BERSAMA TUHAN
Cianjur, 23 Juni 2009

                Sania sebenarnya bukan teman dekatku.Bahkan aku tak mengenalnya sedikitpun.Hanya karena teman Sania adalah salah seorang teman dekatku, aku jadi suka bertegur sapa jika berpapasan.Barangkali temanku itu memberi tahu Sania, bahwa aku suka dengan persoalan-persoalan yang tengah dihadapi manusia.Walau pun belum bisa memberi solusi yang baik, setidaknya aku bersedia mendengarkan!
                Tiba-tiba Sania datang padaku dan bertanya, apakah aku bersedia mendengarkan masalah pribadinya? Yang saat ini sedang mengganggu pikiran dan perasaannya.Tanpa pikir panjang lagi, kujawab ‘aku bersedia’ kemudian kutentukan waktu dan dan tempat untuk bertemu kembali.
                Sania sebenarnya bukan teman dekatku.Namun kali ini, Sania memperlihatkan diri seperti teman dekatku.Barangkali Sania sedang membutuhkan teman untuk didengarkan.Baiknya, kudengarkan saja apa masalahnya, baru nanti kucarikan jalan keluar.Sania menceritakan tentang temannya-yang juga menjadi temanku.Menurutnya, ia mulai berubah sikap, sikap teman kami itu mulai tak bersahabat.Sania ingin tahu, apa penyebabnya.Bahkan Sania sendiri bingung harus berbuat apa.Karena itulah sania menemuiku dan menceritakan masalahnya.Kudengarkan sampai tuntas dan kupastikan,aku akan mencari tahu apa sebabnya teman kami itu berubah sikap? Jika sudah mendapatkan jawabannya, aku berjanji akan segera memberitahu Sania.Sania menyetujui dan menghentikan keluhannya, seolah-olah aku telah mengambil alih kegalauannya!
                Aku bukan malaikat yang dengan tulus selalu siap melakukan kebaikan apa pun untuk orang lain.Namun, aku bersama Tuhan, siap bergerak mengurai masalah-masalah yang menyebabkan kesusahan pada kehidupan manusia.Semoga Tuhan memberkati!
                                                                                *****

MENGGAPAI CINTA ILAHI
Cianjur, 23 Juni 2009

                Pada usia yang begini, pada saat remaja yang menggairahkan.Dimana banyak kawan yang datang dan pergi.Aku juga ingin seperti mereka menikmati masa remaja yang penuh dengan gelak tawa, cerita-cerita seru yang dianggap petualangan.Aku ingin seperti Julie, yang pergi dengan teman lelaki yang satu dan pulang bersama teman yang lain.Selalu sibuk setiap hari yang kulihat dari kejauhan.Julie, seperti kehabisan waktu untuk bermain bersama kami.Sesekali, Julie menghampiri kami.Itu pun hanya untuk menceritakan kisah cintanya dengan para kekasihnya.Sebuah kisah cinta manusia yang bagiku teramat getir.Julie, memang cantik, pembawaannya pun menarik.Namun itu  tak membuat hubungan cinta kasihnya berjalan mulus dan langgeng.Kami hanya bisa mendengar kisahnya yang mengharu tapi menurutnya ‘seru!’
                Pada usia yang begini, pada saat remaja yang menggairahkan.Satu sisi, aku ingin mengalami langsung, seperti apa rasa bercinta yang selalu dibanggakan Julie, didepan kami.Disisi lain, dari cerita Julie saja, aku dapat mengambil kesimpulan.’Apakah aku cukup rela untuk dipandang sebelah mata oleh pasanganku? Apakah aku cukup tangguh melihat pasanganku bermesraan dengan perempuan lain didepanku? Apakah aku punya kekuatan untuk mudah memaafkan pasanganku jika ia melakukan kesalahan yang sama?’ Aku mungkin egois, tak ingin tersakiti dengan berusaha tak menyakiti siapa pun.Kucari format yang tepat untuk mencintai dan dicintai, agar aku dapat seimbang menjalaninya.Rupanya dengan menggapai cinta Ilahi, semuanya dapat terkendali!
                                                                *****

HIDUP BAHAGIA DENGAN BERBAGI
Cianjur, 23 Juni 2009

                Sejak kecil, aku tidak pernah berpikir, bagaimana cara membahagiakan orang lain.Yang kupikirkan adalah, bagaimana cara membahagiakan diri sendiri.’Everything for me!’ adalah semboyanku.Aku selalu menginginkan sesuatu,mainan atau makanan, entah itu dibutuhkan secara mendesak atau tidak.Aku selalu ingin mendapatkannya, walau sekedar untuk melihat-lihat saja atau mencicipinya.Untuk kuperhatikan dan kurasakan, apa dan bagaimana mainan atau makanan itu.Aku tidak pernah memikirkan bagaimana perasaan orang yang diminta secara paksa.Yang kupikirkan, aku bisa mendapatkannya kemudian bersenang-senang! Setelah itu, aku tidak peduli dengan sekitarku.Protes atau kemarahan orang lain kepadaku sama sekali tak kuindahkan!
                Sejak kecil, aku merasa bisa bebas mau berbuat apa pun sesuka hatiku.Namun, seringnya mendapat hukuman dari ibu untuk setiap kesalahanku, membuat aku berpikir kembali.Apa yang seharusnya kulakukan? Melanggar aturan atau tidak? Setelah berkali-kali menjadi sang narapidana dirumahku sendiri, perasaanku mulai peka pada lingkungan sekitarku.Aku jadi bisa merasakan, betapa tidak enaknya diminta secara paksa! Apalagi, sesuatu yang dimintanya adalah sesuatu yang paling kita cintai,sukai, sayangi dengan segenap hati.Betapa ingin marahnya aku pada orang yang melakukan pemaksaan.Barangkali, inilah saatnya aku merubah haluan cara berpikirku menjadi ‘betapa bahagianya bisa hidup berbagi!’
                                                                                *****

KATAKAN SEJUJURNYA
Cianjur, 23 JUni 2009

                Bill, katanya kau takkan berbohong lagi padaku.Tapi kali ini, kau melakukannya lagi.Sore ini, aku mempersiapkan diri untuk menyambut kedatanganmu.Katanya kau akan datang tepat pukul 19.00 wib malam ini, jika tidak ada aral melintang.Aku mempersiapkan diri dengan dandanan terbaikku.Menyisir rambut dan memilih busana yang pantas untuk kupakai malam ini.Sebuah busana yang terbaik yang kumiliki.Yang baru saja kubeli dari sebuah Mall dikotaku dengan harga, aku harus menabung beberapa hari untuk mendapatkannya.Busana yang kuinginkan sejak pertama kita bertemu.Setiap aku datang ke Mall itu, berharap busana itu belum terjual sampai uangku cukup untuk membelinya.Dan kini busana iitu telah kumiliki.Kupikir, apa salahnya jika busana itu kugunakan untuk menyambut kedatanganmu.
                Bill, katanya kau takkan bohong lagi padaku.Pukul 19.00 wib malam aku sudah siap dengan dandananku.Hatiku berdebar-debar melihat penampilanku didepan cermin.Betapa cantiknya aku dengan busana terbaruku.Semoga kau menyukainya,Bill!
Pukul 20.30 wib, aku menuggumu diruang tamu.Aku masih bisa berpikir positif, barangkali kau akan datang sedikit terlambat.Aku berusaha memaklumi! Sampai hampir sepertiga malam, aku masih menunggumu.Kali ini, aku tidak yakin kau akan datang mengetuk pintu rumahku.Aku yang menunggu sejak tadi dengan busana terbaruku.Benar-benar sangat kecewa padamu.Apa kau mempermainkan aku? Apa kau tidak sungguh-sungguh menginginkanku? Jujurlah padaku,Bill….
                                                                                *****

ANDA SOPAN PASTI AMAN
Cianjur, 23 Juni 2009

                Sebenarnya, aku tidak ingin menyalahkan siapappun.Dengan kebisingan yang terjadi disekitar rumahku.Motor lalu lalang dengan suaranya dikencangkan.Belum lagi suara pengemudinya yang bertiak ini dan itu.Sempurnalah kebisingan dikampungku hamper selama 24 jam perhari.Kebisingan yang tak pernah ada, waktu pertama kali aku dan keluargaku tinggal disini.Suasanya hening, syahdu dan ramah lingkungan.Alasan itulah, kami pindah ketempat ini. Sebuah kampong yang sunyi, kini semua telah berubah.
                Sebenarnya, aku tidak ingin menyalahkan siapapun.Tapi aku juga mulai gerah dan merasa terganggu dengan kebisingannya.Sopan santun mulai dilupakan.Padahal papan yang tergantung di tembok rumah tetangga selalu mengingatkan ‘Anda Sopan Pasti Aman!’ yang dibawahnya tertera atas nama Rukun Tetangga dan Rukun Warga.Sebenarnya aku ingin berdamai dengan para pengemudi motor yang tak kenal kasihan itu.Yang tak pernah berhenti mengganggu konsentrasi menulisku setiap hari,bahkan sepanjang hari.Kapan waktuku untuk masuk wilayah sunyi? Aku ingin memaafkan keadaan ini.Mungkin aku harus terbiasa dan menyesuaikan diri dengannya.Baiknya kumaafkan saja.Habis perkara!
                                                                                *****

BAHAYA SANJUNGAN
Cianjur, 28 Juni 2009

                Bagaimana perasaanmu, jika ada yang memuji penampilanmu? Kemudian dengan terang-terangan mengagumimu dan bersedia menjadi pemujamu? Baginya, kau adalah seribu satu sanjungan yang layak kau terima yang selalu duceritakannya kepada semua orang.Baik didepanmu atau dibelakangmu.Seolah orang itu tak pernah melihat cacat sedikitpun pada dirimu.Apakah kau akan menyikapinya dengan keangkuhan yang mempesona atau dengan kesombangan yang membatasi jarak antara kau dengan dia? Kata orang tua, terlalu banyak menerima sanjungan akan memuaikan rasa yang sebenarnya dan seharusnya.Jika ini dibiarkan terus menerus terjadi, akan menurunkan nilai rasa yang kamu miliki.Dan itu segera akan menurunkan nilai dirimu sendiri.
                                                                                *****

MENYIKAPI SANJUNGAN
Cianjur, 28 Juni 2009

                Aku bukan tidak suka disanjung.Aku lebih suka mengabaikan sanjungan ketimbang merasakannya berlama-lama.Benar, sesekali aku butuh sanjungan sekedar untuk menguatkan diri bahwa yang kulakukan ini benar dan memuaskan.Serta sebagai penilaian positif orang lain terhadap kemampuan, karya atau kepribadianku.Hanya saja sanjungan suka digunakan untuk harapan yang terselubung untuk mendapatkan sesuatu secara tidak langsung dari yang menyanjung kepada yang disanjung.
                Aku bukan tidak suka disanjung.Aku lebih suka orang lain menilaiku apa adanya, bukan basa basi!
                                                                                *****