KHILAF
Cianjur, 21 Juni 2009
Buyung, sebelumnya aku minta
maaf atas kekhilafanku selama ini.Aku benar-benar belum memahami apa yang
terjadi pada diri kita? Sebelum aku berusaha memahami semuanya, sudah dihadang
keangkuhan.Sebuah keangkuhan yang membuatku enggan mencari tahu, apa yang
terjadi padaku dan padamu? Hingga kita terpisah dan sulit bercerita? Seperti
dulu, seperti yang biasa kita lakukan setiap sore menjelang maghrib.Sejujurnya,
aku merindukan masa itu.Masa kanak-kanak kita yang penuh petualangan.Tanpa rasa
takut, tanpa rasa benci, tanpa mengkhawatirkan masa depan.Kita menikmati
hari-hari penuh kasih sayang.Dan aku sangat merasakan, seberapa dalam
perhatianmu padaku.Sayang, semua itu sudah lama berlalu!
Buyung, sebenarnya, sesekali
terbit dalam perasaanku, ingin mencari tahu keberadaanmu.Kau berada dimana,
kegiatanmu apa setelah kita beranjak dewasa? Sungguh aku ingin tahu, bahkan
kalau mungkin, aku ingin menjemput dan mengurai kembali cerita lama yang nyaris
terlupakan.Bahkan wajahmu kini seperti apa aku tidak tahu! Dan tak ada seorang
pun yang memberitahuku!
Buyung, apa kau juga punya
perasaan atau keinginan yang sama denganku? Jika ya, apa hambatannya? Apa yang
menyusahkan kita untuk bertemu, bercerita dan berpetualang? Apa masih ada aku
dalam pikiranmu, setelah kau beranjak dewasa dan banyak kawan?
Buyung, aku ingin memaafkan
diriku sendiri yang memiliki harapan banyak kepadamu.Aku ingin memaafkanmu,
karena tidak segera menemuiku dalam keadaan seperti biasanya.Aku ingin
memaafkan kenyataan pahit yang diberikannya kepada kita.Buyung, apa kau sanggup
memaafkan untuk semuanya? Sungguh, aku tidak mau menyesal menjalankan hidup
didunia ini!
*****
LAPISAN KEPRIBADIAN
Cianjur, 21
Juni 2009
Halimah adalah teman baruku.Aku
baru berkenalan dengannya beberapa hari yang lalu.Disebuah perpustakaan umum
dikotaku.Awalnya, kami tidak saling tegur sapa.Aku sibuk dengan pencarian buku
yang menarik minatku.Demikian pula dengan Halimah.Tak ada kata-kata, tak ada
lirikan yang mengisyaratkan bahwa hari itu aku akan mendapatkan teman
baru.Karena perempuan disebelahku sibuk membuka-buka buku yang dibawanya dari
rak buku.Tanpa sengaja, aku melirik
sebuah judul pada buku yang dibawanya dari rak buku.Tiba-tiba aku merasa
tertarik dengan judul buku itu.Sekilas kulihat wajah perempuan
disebelahku.Sejenak kuamati, bagaimana kira-kira aku menaksir
kepribadiannya.Perempuan yan disebelahku, yang sedang sibuk membuka-buka buku
itu tak bergeming.Kukira penaksiranku tidak akan mengganggunya.Kupikir ini
hanya penaksiran subjektif hasil analisaku sekilas saja!
Halimah adalah teman
baruku.Waktu pertama aku bertemu dengannya, kesan pertama yang dapat kutangkap
dari penampilannya, Halimah seorang anak rumahan, agak tertutup, menjaga image
dan ketergantungan pada seseorang atau seseuatu.Halimah dalam kesan pertamaku
agak hemat dalam berbasa-basi sedikit jutek dan selalu mau untung.Sampai pada
saat aku harus meminta izin untuk meminjam sebentar salah satu buku dalam
himpunan buku yang dibawanya.Terpaksa aku mengatakan sesuatu.Tanpa disangka,
Halimah mempersilahkanku membawa buku yang menarik minatnya.Bahkan menanyakanku
beberapa hal tentang sesuatu yang berhubungan dengan judul dalam buku tersebut.Sampai
hari ini, kami menjadi teman.Halimah yang kutaksir semula, ternyata tidak
seperti yang terlihat.Kepribadian Halimah lebih baik dari sekedar yang kukira!
*****
LIBUR BAGI SEORANG PENULIS
Cianjur, 23
Juni 2009
Aku ingin menjadi penulis,
terkenal atau tidak itu nomor kesekian.Aku ingin menuangkan semua yang jadi
permasalahan manusia secara rinci.Dengan begitu, dengan sangat mudah, aku dapat
menemukan jawaban-jawaban dari setiap permasalahan.
Aku ingin jadi penulis, terkenal
atau tidak, tetap saja menulis.Bagiku pekerjaan menulis merupakan pelepasan
emosi secara perlahan-lahan.Dan ini menjadi obat bagi kejenuhan pikiran dan
perasaan.Karena aku ingin jadi penulis, tentu ingin saja tidak cukup untuk
menjadi seorang penulis.Aku harus berlatih menulis,menulis dan menulis.Hingga
aku menemukan gaya tutur khasku sendiri.Tidak mudah memang untuk bertahan
dengan serangkaian rencana yang kubuat dalam jangka waktu tertentu.Butuh
kesabaran, ketekunan dan kemauan.Sebab tak pelak dalam perjalanannya aku selalu
mendapatkan rintangan berupa rasa malas, jenuh atau menghadapi kejadian-kejadian
yang tak terduga lainnya.
Aku ingin menjadi
penulis.Sejatinya tidak ada istilah hari libur bagi seorang penulis.Seperti
yang dikatakan Gerald Brenas ‘Hanya
dengan menulis setiap pagi, seseorang dapat menjadi penulis.Jika tidak dia akan
tetap menjadi seorang amatir!’ aku cukup tersentuh dengan pernyataan
ini.Kalimat ini sanggup membakar kemauan serta ambisiku untuk terus
menulis.Walau sesekali berhenti menulis jika sedang dihinggapi
perasaan-perasaan tertentu.Aku masih bertekad, aku ingin menjadi penulis.Seorang
penulis yang tulisannya mudah difahami dan bermanfaat bagi semua orang.Untuk
itulah, kukumpulkan informasi-informasi tentang kepenulisan dan orang yang
telah lebih dulu menerjuni bidang ini.Sebentar lagi dunia akan tahu, bahwa aku,
seorang penulis!
*****
BERGERAK BERSAMA TUHAN
Cianjur, 23
Juni 2009
Sania sebenarnya bukan teman
dekatku.Bahkan aku tak mengenalnya sedikitpun.Hanya karena teman Sania adalah
salah seorang teman dekatku, aku jadi suka bertegur sapa jika
berpapasan.Barangkali temanku itu memberi tahu Sania, bahwa aku suka dengan
persoalan-persoalan yang tengah dihadapi manusia.Walau pun belum bisa memberi
solusi yang baik, setidaknya aku bersedia mendengarkan!
Tiba-tiba Sania datang padaku
dan bertanya, apakah aku bersedia mendengarkan masalah pribadinya? Yang saat
ini sedang mengganggu pikiran dan perasaannya.Tanpa pikir panjang lagi, kujawab
‘aku bersedia’ kemudian kutentukan waktu dan dan tempat untuk bertemu kembali.
Sania sebenarnya bukan teman
dekatku.Namun kali ini, Sania memperlihatkan diri seperti teman
dekatku.Barangkali Sania sedang membutuhkan teman untuk didengarkan.Baiknya,
kudengarkan saja apa masalahnya, baru nanti kucarikan jalan keluar.Sania
menceritakan tentang temannya-yang juga menjadi temanku.Menurutnya, ia mulai
berubah sikap, sikap teman kami itu mulai tak bersahabat.Sania ingin tahu, apa
penyebabnya.Bahkan Sania sendiri bingung harus berbuat apa.Karena itulah sania
menemuiku dan menceritakan masalahnya.Kudengarkan sampai tuntas dan
kupastikan,aku akan mencari tahu apa sebabnya teman kami itu berubah sikap?
Jika sudah mendapatkan jawabannya, aku berjanji akan segera memberitahu
Sania.Sania menyetujui dan menghentikan keluhannya, seolah-olah aku telah
mengambil alih kegalauannya!
Aku bukan malaikat yang dengan
tulus selalu siap melakukan kebaikan apa pun untuk orang lain.Namun, aku
bersama Tuhan, siap bergerak mengurai masalah-masalah yang menyebabkan
kesusahan pada kehidupan manusia.Semoga Tuhan memberkati!
*****
MENGGAPAI CINTA ILAHI
Cianjur, 23 Juni
2009
Pada usia yang begini, pada saat
remaja yang menggairahkan.Dimana banyak kawan yang datang dan pergi.Aku juga
ingin seperti mereka menikmati masa remaja yang penuh dengan gelak tawa,
cerita-cerita seru yang dianggap petualangan.Aku ingin seperti Julie, yang
pergi dengan teman lelaki yang satu dan pulang bersama teman yang lain.Selalu
sibuk setiap hari yang kulihat dari kejauhan.Julie, seperti kehabisan waktu
untuk bermain bersama kami.Sesekali, Julie menghampiri kami.Itu pun hanya untuk
menceritakan kisah cintanya dengan para kekasihnya.Sebuah kisah cinta manusia
yang bagiku teramat getir.Julie, memang cantik, pembawaannya pun menarik.Namun
itu tak membuat hubungan cinta kasihnya
berjalan mulus dan langgeng.Kami hanya bisa mendengar kisahnya yang mengharu
tapi menurutnya ‘seru!’
Pada usia yang begini, pada saat
remaja yang menggairahkan.Satu sisi, aku ingin mengalami langsung, seperti apa
rasa bercinta yang selalu dibanggakan Julie, didepan kami.Disisi lain, dari
cerita Julie saja, aku dapat mengambil kesimpulan.’Apakah aku cukup rela untuk
dipandang sebelah mata oleh pasanganku? Apakah aku cukup tangguh melihat
pasanganku bermesraan dengan perempuan lain didepanku? Apakah aku punya
kekuatan untuk mudah memaafkan pasanganku jika ia melakukan kesalahan yang
sama?’ Aku mungkin egois, tak ingin tersakiti dengan berusaha tak menyakiti
siapa pun.Kucari format yang tepat untuk mencintai dan dicintai, agar aku dapat
seimbang menjalaninya.Rupanya dengan menggapai cinta Ilahi, semuanya dapat
terkendali!
*****
HIDUP BAHAGIA DENGAN BERBAGI
Cianjur, 23
Juni 2009
Sejak kecil, aku tidak pernah
berpikir, bagaimana cara membahagiakan orang lain.Yang kupikirkan adalah,
bagaimana cara membahagiakan diri sendiri.’Everything for me!’ adalah
semboyanku.Aku selalu menginginkan sesuatu,mainan atau makanan, entah itu
dibutuhkan secara mendesak atau tidak.Aku selalu ingin mendapatkannya, walau
sekedar untuk melihat-lihat saja atau mencicipinya.Untuk kuperhatikan dan
kurasakan, apa dan bagaimana mainan atau makanan itu.Aku tidak pernah memikirkan
bagaimana perasaan orang yang diminta secara paksa.Yang kupikirkan, aku bisa
mendapatkannya kemudian bersenang-senang! Setelah itu, aku tidak peduli dengan
sekitarku.Protes atau kemarahan orang lain kepadaku sama sekali tak kuindahkan!
Sejak kecil, aku merasa bisa
bebas mau berbuat apa pun sesuka hatiku.Namun, seringnya mendapat hukuman dari
ibu untuk setiap kesalahanku, membuat aku berpikir kembali.Apa yang seharusnya
kulakukan? Melanggar aturan atau tidak? Setelah berkali-kali menjadi sang
narapidana dirumahku sendiri, perasaanku mulai peka pada lingkungan
sekitarku.Aku jadi bisa merasakan, betapa tidak enaknya diminta secara paksa!
Apalagi, sesuatu yang dimintanya adalah sesuatu yang paling kita cintai,sukai,
sayangi dengan segenap hati.Betapa ingin marahnya aku pada orang yang melakukan
pemaksaan.Barangkali, inilah saatnya aku merubah haluan cara berpikirku menjadi
‘betapa bahagianya bisa hidup berbagi!’
*****
KATAKAN SEJUJURNYA
Cianjur, 23
JUni 2009
Bill, katanya kau takkan
berbohong lagi padaku.Tapi kali ini, kau melakukannya lagi.Sore ini, aku
mempersiapkan diri untuk menyambut kedatanganmu.Katanya kau akan datang tepat
pukul 19.00 wib malam ini, jika tidak ada aral melintang.Aku mempersiapkan diri
dengan dandanan terbaikku.Menyisir rambut dan memilih busana yang pantas untuk
kupakai malam ini.Sebuah busana yang terbaik yang kumiliki.Yang baru saja
kubeli dari sebuah Mall dikotaku dengan harga, aku harus menabung beberapa hari
untuk mendapatkannya.Busana yang kuinginkan sejak pertama kita bertemu.Setiap
aku datang ke Mall itu, berharap busana itu belum terjual sampai uangku cukup
untuk membelinya.Dan kini busana iitu telah kumiliki.Kupikir, apa salahnya jika
busana itu kugunakan untuk menyambut kedatanganmu.
Bill, katanya kau takkan bohong
lagi padaku.Pukul 19.00 wib malam aku sudah siap dengan dandananku.Hatiku
berdebar-debar melihat penampilanku didepan cermin.Betapa cantiknya aku dengan
busana terbaruku.Semoga kau menyukainya,Bill!
Pukul 20.30
wib, aku menuggumu diruang tamu.Aku masih bisa berpikir positif, barangkali kau
akan datang sedikit terlambat.Aku berusaha memaklumi! Sampai hampir sepertiga
malam, aku masih menunggumu.Kali ini, aku tidak yakin kau akan datang mengetuk
pintu rumahku.Aku yang menunggu sejak tadi dengan busana terbaruku.Benar-benar
sangat kecewa padamu.Apa kau mempermainkan aku? Apa kau tidak sungguh-sungguh
menginginkanku? Jujurlah padaku,Bill….
*****
ANDA SOPAN PASTI AMAN
Cianjur, 23
Juni 2009
Sebenarnya, aku tidak ingin
menyalahkan siapappun.Dengan kebisingan yang terjadi disekitar rumahku.Motor
lalu lalang dengan suaranya dikencangkan.Belum lagi suara pengemudinya yang
bertiak ini dan itu.Sempurnalah kebisingan dikampungku hamper selama 24 jam
perhari.Kebisingan yang tak pernah ada, waktu pertama kali aku dan keluargaku
tinggal disini.Suasanya hening, syahdu dan ramah lingkungan.Alasan itulah, kami
pindah ketempat ini. Sebuah kampong yang sunyi, kini semua telah berubah.
Sebenarnya, aku tidak ingin
menyalahkan siapapun.Tapi aku juga mulai gerah dan merasa terganggu dengan
kebisingannya.Sopan santun mulai dilupakan.Padahal papan yang tergantung di
tembok rumah tetangga selalu mengingatkan ‘Anda Sopan Pasti Aman!’ yang
dibawahnya tertera atas nama Rukun Tetangga dan Rukun Warga.Sebenarnya aku
ingin berdamai dengan para pengemudi motor yang tak kenal kasihan itu.Yang tak
pernah berhenti mengganggu konsentrasi menulisku setiap hari,bahkan sepanjang
hari.Kapan waktuku untuk masuk wilayah sunyi? Aku ingin memaafkan keadaan
ini.Mungkin aku harus terbiasa dan menyesuaikan diri dengannya.Baiknya
kumaafkan saja.Habis perkara!
*****
BAHAYA SANJUNGAN
Cianjur, 28
Juni 2009
Bagaimana perasaanmu, jika ada
yang memuji penampilanmu? Kemudian dengan terang-terangan mengagumimu dan
bersedia menjadi pemujamu? Baginya, kau adalah seribu satu sanjungan yang layak
kau terima yang selalu duceritakannya kepada semua orang.Baik didepanmu atau
dibelakangmu.Seolah orang itu tak pernah melihat cacat sedikitpun pada
dirimu.Apakah kau akan menyikapinya dengan keangkuhan yang mempesona atau
dengan kesombangan yang membatasi jarak antara kau dengan dia? Kata orang tua,
terlalu banyak menerima sanjungan akan memuaikan rasa yang sebenarnya dan
seharusnya.Jika ini dibiarkan terus menerus terjadi, akan menurunkan nilai rasa
yang kamu miliki.Dan itu segera akan menurunkan nilai dirimu sendiri.
*****
MENYIKAPI SANJUNGAN
Cianjur, 28
Juni 2009
Aku bukan tidak suka
disanjung.Aku lebih suka mengabaikan sanjungan ketimbang merasakannya
berlama-lama.Benar, sesekali aku butuh sanjungan sekedar untuk menguatkan diri
bahwa yang kulakukan ini benar dan memuaskan.Serta sebagai penilaian positif
orang lain terhadap kemampuan, karya atau kepribadianku.Hanya saja sanjungan
suka digunakan untuk harapan yang terselubung untuk mendapatkan sesuatu secara
tidak langsung dari yang menyanjung kepada yang disanjung.
Aku bukan tidak suka
disanjung.Aku lebih suka orang lain menilaiku apa adanya, bukan basa basi!
*****
Tidak ada komentar:
Posting Komentar